Bagaimana Proses Pengakuan Kedaulatan Indonesia Agar Diakui Secara Penuh Sebagai Negara Berdaulat

Indonesia menyatakan sebagai negara berdaulat dan menyatakan bebas dari penjajahan asing melalui proklamasi kemerdekaan. Proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Nyatanya, Indonesia tidak lantas menjadi negara yang memiliki kedaulatan secara penuh setelah pelaksanaan proklamasi kemerdekaan.

Proklamasi kemerdekaan hanya membuat Indonesia memiliki kedaulatan yang bersifat terbatas. Indonesia membutuhkan pengakuan sebagai negara dari negara-negara lain di dunia untuk memiliki kadaulatan yang utuh.

Proses pengakuan kedaulatan Indonesia agar diakui secara penuh membutuhkan waktu cukup lama, lebih dari empat tahun. Berbagai upaya dilakukan bangsa Indonesia dalam proses pengakuan kedaulatan Indonesia agar dapat diakui secara penuh.

Apa saja upaya yang dilakukan bangsa Indonesia untuk mendapatkan kedaulatan secara penuh? Bagaimana proses pengakuan kedaulatan Indonesia agar diakui secara penuh sebagai negara yang berdaulat? Sobat idschool dapat mencari tahu bagaimana proses pengakuan kedaulatan Indonesia diakui secara penuh melalui ulasan di bawah.

Table of Contents

Baca Juga: 3 Tokoh Pengibar Bendera Merah Putih saat Proklamasi

[Ringkasan] Proses Pengakuan Kedaulatan Indonesia Secara Penuh

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 memilki arti bangsa Indonesia menyatakan merdeka atas penjajahan bangsa asing. Namun kedaulatan Indonesia berusaha direbut kembali oleh Belanda melalui Agresi Militer Belanda I dan Agresi Militer Belanda II. Namun rakyat Indonesia secara kompak melakukan penolakan dan perlawanan untuk mempertahakan kedaulatan.

Upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan dua cara yaitu melalui pertempuran (cara bersenjata) dan diplomasi. Pertempuran dilakukan karena Belanda menyerang dan bermaksud mengambil alih wilayah Indonesia. Sementara upaya diplomasi dilakukan karena Belanda tidak menepati janji (mengingkari kesepakatan) yang telah dibuat dan meminimalisir korban jatuh dalam pertempuran.

Proses Pengakuan Kedaulatan Indonesia

Pertempuran yang dilakukan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Beberapa pertempuran yang dilakukan untuk mempertahankan kemerdekan Indonesia terjadi di wilayah-wilayah berikut.

  • Medan Area (13 Oktober 1945)
  • Pertempuran Surabaya (10 November 1945)
  • Pertempuran Ambarawa (26 Oktober 1945)
  • Pertempuran 5 Hari di Semarang (15 – 20 OKtober 1945)
  • Bandung Lautan Api (21 November 1945)
  • Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta

Sementara upaya diplomasi dilakukan melalui perundingan-perundingan yang antara lain meliputi perjanjian Linggarjati, Renville, Roem-Royen, dan Konferensi Meja Bundar (KMB).

Indonesia pertama kali mendapat pengakuan kedaulatan dari Mesir pada tanggal 18 November 1946. Sementara penyerahan kedaulatan secara resmi dari Belanda pada 27 Desember 1949 melalui KMB.

Setelah mendapat pengakuan kedaulatan dari Belanda, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengakui kedaulatan Indonesia pada 28 September 1950 dan menjadi anggota yang ke-60. Dengan menjadi anggota PBB maka Indonesia telah secara resmi memiliki kedaulatan secara penuh.

Demikianlah ringkasan proses pengakuan kedaulatan Indonesia agar diakui sepenuhnya sebagai negara yang berdaulat.

Baca Juga: Rangkuman Peristiwa G30S/PKI 1965

Proses Pengakuan Kedaulatan Indonesia Melalui Cara Senjata

Pernyataan sebagai negara merdeka dan bebas dari penjajahan asing dilakukan oleh Bangsa Indonesia melalui proklasmasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Namun, Indonesia masih belum medapat pengakuan kedaulatan oleh negara lain pada waktu itu.

Sehingga kedaulatan yang dimiliki Indonesia pada waktu itu merupakan kedaulatan terbatas. Indonesia harus berjuang selama lebih dari 4 tahun untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan secara penuh.

Upaya pertama yang dilakukan dalam proses pengakuan kedaulatan Indonesia dilakukan melalui pertempuran atau dengan cara senjata. Pertempuran pasca proklamasi kemerdekaan terjadi karena Belanda datang lagi ke Indonesia dengan tujuan untuk kembali menjajah bangsa Indonesia.

Kedatangan Belanda dan pasukan sekutu untuk mengambil kekuasaan Indonesia mendapatkan perlawanan dari rakyat Indonesia. Perlawanan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia dilakukan melalui berbagai pertempuran di beberapa wilayah Indonesia.

Beberapa peristiwa pertempuran yang terjadi selama proses pengakuan kedaulatan Indonesia meliputi beberapa kejadian berikut.

1) Pertempuran Surabaya (10 November 1945)

Latar belakang terjadinya pertempuran Surabaya adalah kedatangan pasukan sekutu yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherland East Indies). Kedatangan AFNEI ke Surubaya pada awalnya memiliki tujuan untuk melucuti tentara Jepang dan memulangkan ke negara asalnya. Namun tujuan tersebut dibarengi dengan keinginan Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.

Tujuan Belanda untuk kembali menguasai Indonesia mendapatkan perlawanan dari rakyat Surabaya. Salah satu pemicu keributan adalah dikibarkannya bendera Belanda di Hotel Yamato. Bendera Belanda yang berkibar pada waktu itu dipaksa turunkan oleh rakyat Surabaya dan menuntut pengibaran bendera Merah Putih.

Perlawanan rakyat Surabaya tehadap sekutu pada waktu itu dipimpin oleh Sutomo (Bung Tomo). Kekacaun besar terjadi di Kota Surabaya pada tanggal 10 November 1945 karena adanya serangan meriam kapal perang Inggris.

Perlawanan rakyat Surabaya mendapat bantuan dari berbagai daerah. Namun sekutu memiliki senjata yang lebih canggih sehingga dapat menguasai perlawanan.

Pasukan sekutu menyadari bahwa pertempuran ini tidak akan ada habisnya sehingga pasukan sekutu memilih untuk meninggalkan Surabaya.

Pertempuran Surabaya dianggap sebagai pertempuran yang terbesar dan terberat karena lebih dari 16.000 penjuang Indonesia meninggal dan 200.000 rakyat sipil meninggalkan Surabaya. Perlawanan rakyat Surabaya yang penuh dengan darah menjadi penggerak perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk melawan sekutu.

2) Pertempuran Ambarawa (26 Oktober 1945)

Pertempuran Ambarawa terjadi sebagai bentuk perlawanan rakyat pada proses pengakuan kedaulatan Indonesia. Pemimpin pertempuran Ambarawa adalah Letkol Isdiman yaitu seorang perwira Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Petempuran Ambara berakhir dengan kemenangan atas TKR yang telah berhasil merebut benteng pertahanan sekutu.  

3) Pertempuran 5 Hari di Semarang (15 – 20 OKtober 1945)

Rangkaian pertempuran yang dilakukan rakyat Indonesia melawan tentara Jepang di Kota Semarang. Peristiwa ini terjadi pasca proklamasi saat terjadi upaya Belanda menduduki wilayah Indonesia kembali. Pertempuran lima hari di Semarang berlangsung pada tanggal 15 ‒ 19 Oktober 1945.

Pemicu dari pertempuran ini adalah tewasnya dr. Kariadi karena ditembak oleh tentara Jepang. Peristiwa tersebut membuat para pemuda tersulut amarah dan menangkap Jenderal Nakamura. Penangkapan Jenderal Nakamura menimbulkan kemarahan tentara Jepang sehingga terjadilah pertempuran.

Akhir dari pertempuran lima hari di Semarang terjadi saat tentara sekutu datang yang melucuti persenjataan pasukan Jepang pada tanggal 20 Oktober 1945.

4) Pertempuran Medan Area (13 Oktober 1945)

Perlawanan rakyat Indonesia terhadap sekutu di Medan, Sumatera Utara dikenang dalam sejarah sebagai pertempuran Medan Area. Pertempuran Medan Area pada tanggal 13 Oktober 1945 dipicu lantaran lencana merah putih yang dipakai seorang pemuda Indonesia diinjak oleh tentara sekutu.

Peristiwa penginjakan lencana merah putih membuat pemuda Indonesia menjadi marah sehingga pertempuran dengan tentara sekutu tidak dapar dihindarkan. Dari pertempuran Medan Area pada tanggal 13 Oktober 1945 menewaskan 96 orang tentara sekutu.

5) Bandung Lautan Api (21 November 1945)

Bandung lautan api adalah sebuah peristiwa pembakaran Kota Bandung sebagai upaya agar daerahnya tidak diduduki oleh Belanda. Kejadian pembakaran seluruh Kota Bandung merupakan rangkaian perjuangan yang dilakukan Bangsa Indonesia untuk mempertahankan Indonesia dari penjajahan bangsa lain.

Awal bentrokan antara rakyat Bandung dengan pasukan sekutu tejadi pada 21 November 1945. Latar belakang yang mendasarinya adalah adanya ultimatun dari sekutu untuk mengosongkan Bandung bagian utara. Namun rakyat Bandung melakukan perlawanan sehingga terjadilah bentrokan.

Peristiwa pembakaran kota Bandung terjadi pada tanggal 24 Maret 1946 yang sehari sebelumnya telah menjadi kesepakatan Majelis Persatuan Perjuangan Priangan. Bandung Lautan Api menjadi akhir dari pertempuran antara pasukan sekutu dengan pejuang di Kota Bandung.

6) Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta (1949)

Latar belakang peristiwa 1 Maret 1949 di Yogyakarta adalah adanya Agresi Militer Belanda II yang berhasil menaklukan Yogyakarta dan menangkap beberapa pemimpin pemerintahan Indonesia. Yogyakarta pada waktu itu menjadi ibu kota sementara karena kondisi propaganda Belanda yang membuat Jakarta tidak kondusif.

Tujuan dari serangan Umum 1 Maret 1949 selama proses pengakuan kedaulatan Indonesia adalah untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia masih cukup kuat. Komandan serangan Umum 1 Maret 1949 adalah Letnal Kolonel Soeharto. Hasil dari serangan besar-besaran pada tanggal 1 Maret 1949 adalah pasukan TNI mampu mengambil alih Kota Yogyakarta selama 6 jam.

Baca Juga: Peristiwa Rengasdengklok Sebelum Proklamasi Kemerdekaan

Upaya Diplomasi pada Proses Pengakuan Kedaulatan Indonesia

Selain melalui cara senjata, upaya yang dilakukan dalam proses pengakuan kedaulatan juga dilakukan melalui cara diplomasi. Diplomasi adalah upaya pemecahan masalah yang dilakukan melalui sebuah negosiasi antara pihak-pihak yang terlibat. Upaya diplomasi ditempuh Indonesia dalam proses pengakuan kedaulatan Indonesia secara penuh bertujuan untuk meminimalisir jatuhnya korban akibat perang.

Berikut merupakan upaya-upaya diplomasi yang dilakukan Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan selama proses pengakuan kedaulatan Indonesia.

1) Perjanjian Linggarjati

Perjanijan Linggarjati berlangsung pada 10 November 1946 di Kuningan, Jawa Barat. Perundingan ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah akibat Agresi Militer Belanda I. Perwakilan Indonesia dalam perundingan ini diketuai oleh Sutan Syahrir, sementara perwakilan Belanda diketuai oleh Schermerhorn. Sebagai mediator dalam perundingan Linggarjati adalah Lord Killearn dari Inggris.

2) Perundingan Renville

Perundingan Renville berlangsung pada 8 Desember 1947 di kapal USS Renville milik Amerika Serikat. Dalam perundingan Renville, wakil pihak Indonesia adalah Amir Syarifuddin dan wakil pihak Belanda adalah Abdulkadir Wijoyoatmojo. Hasil dari perundingan Renville membuat wilayah Indonesia menjadi lebih sempit karena adanya garis demarkasi Van Mook.

3) Roem Royen

Perundingan Roem Royyen berlangsung pada 14 April 1949 di Jakarta. Wakil Indonesia dalam perundingan Roem Royen adalah Moh Roem. Sedangkan wakil Belanda dalam perundingan Roem-Royen adalah van Royen.

Hasil dari perundingan Roem-Royen adalah pengembalian pemerintah RI ke Yogyakarta dan pembebasan pemimpin Indonesia yang ditawan Belanda. Selain itu, dalam perundingan Roem-Royen juga menghasilkan keputusan untuk menyelenggarakan Konferensi Meja Bundar (KMB).

4) Konferensi Meja Bundar (KMB)

Konferansi Meja Bundar berlangsung pada 21 Agustus ‒ 2 November 1949 di Den Haag, Belanda. Dalam perundingan KMB, Indonesia diwakili oleh Moh.Hatta dan Belanda diwakili Mr. van Marseeven. Sementara dari kelompok negara federal diwakili Sultan Hamid II.

KMB menjadi peristiwa penting bagi Indonesia selama proses pengakuan kedaulatan Indonesia. Salah satu hasil dari KMB yang paling menguntungkan Indonesia adalah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia dan mengakhiri konflik bersenjata.

Pada proses pengakuan kedaulatan Indonesia telah banu serangkaian upaya mempertahankan kemerdekaan. Hingga pada akhirnya keputusan KMB tercapai dan Indonesia secara resmi diakui sebagai sebuah negara yang berdaulat pada tanggal 27 Desember 1949.

Demikianlah tadi proses pengakuan kedaulatan Indonesia agar diakui secara penuh sebagai negara yang berdaulat. Di mana proses pengakuan kedaulatan Indonesia dilakukan melalui dua cara yaitu dengan cara senjata dan diplomasi. Terima kasih sudah mengunjungi idschool(dot)net, semoga bermanfaat!

Baca Juga: Langkah-Langkah Penataan Stabilitas Politik pada Masa Orde Baru

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Exit mobile version