Analisis Unsur Intrinsik Hikayat Patani dan Nilai (+Jenis Majas/Gaya Bahasa)

By | August 21, 2021

Analisis unsur intrinsik Hikayat Patani bertujuan untuk menemukan apa tema, tokoh/penokohan, alur, latar/setting, dan amanat dari cerita yang dikisahkan. Hikayat Patani adalah sebuah manuskrip Melayu pada zaman dahulu yang mengisahkan sejarah Pattani mengenai legenda dan Kesultanan Pattani. Kesultanan tersebut merupakan sebuah kerajaan Melayu yang terletak di tepi barat Semenanjung Malaysia.

Apa saja unsur intrinsik Hikayat Patani? Apa saja nilai yang terkandung dalam Hikayat Patani? Bagaimana penggunaan majas dalam hikayat tersebut? Sobat idschool dapat mencari tahu jawabannya melalui ulasan di bawah.

Ringkasan Hikayat Patani dalam Bahasa Indonesia

Alkisah, terdapat suatu kerajaan yang di kuasai oleh raja Paya Tu Kerub Mahajana. Sepeninggal raja, kepemimpinan kerajaan berganti di bawah anaknya yaitu Paya Tu Naqpa yang memiliki hobi berburu.

Suatu hati, ia mendengar berita bahwa daerah tepi laut mempunyai banyak binatang untuk diburu. Kemudian, Raja Paya Tu Naqpa beserta hulubalang kerajaan pergi ke daerah tersebut untuk berburu. Namun, rombongan kerajaan tidak menemukan satu pun binatang di tempat tersebut.

Raja dan rombongan kemudian melepeaskan anjing unutk membantu menemukan hewan buruan. Anjing itu menemukan seekor rusa putih yang warnanya gemilang. Rombongan raja mengejar rusa tersebut namun tidak berhasil menemukan rusa tetapi malah bertemu sepasang suami istri.

Lelaki dari pasangan suami-istri tersebut menceritakan asal muasal adanya rusa putih tersebut. Setelah mendengar cerita tersebut, raja tertarik untuk memindahkan negeri nya ke tempat tersebut yang kemudian diberi nama Patani Darussalam, artinya negeri yang sejahtera.

Setelah Paya Tu Naqpa bertahta selama beberapa tahun, ia mengalami penyakit berat. Raja pun mengeluarkan pengumuman melalui hulubalangnya yaitu barang siapa bisa menyembuhkannya akan dijadikan menantu.

Singkat cerita, ada seorang bernama Syekh Sa’id yang berkata bisa menyembuhkan raja. Namun, Syekh Sa’id tidak menginginkan hadiah sebagai menantu. Sebagai gantinya, ia mengingikan raja masuk Islam jika ia bisa mengobati raja dari sakitnya.

Raja pun menerima permintaan tersebut dan Syekh Sa’id pun datang untuk mengobati raja. Sayangnya, janji raja untuk masuk Islam tidak ditepati setelah ia sembuh. Kejadian yang sama berulang lagi sampai kedua kalinya. Hingga akhirnya raja kembali sakit dan berhasil sembuh karena diobati Syekh Sa’id. Pada ketiga kalinya ini, raja Paya Tu Naqpa menepati janjinya kepada Syekh Sa’id.

Tidak lama setelah itu, banyak rakyat yang masuk Islam. Mereka mendirikan shalat dan tidak makan babi lagi. Walaupun begitu, raja tetap melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan Islam.

Baca selengkapnya Hikayat Patani

Unsur Intrinsik Hikayat Patani

Pembangun suatu cerita yang terdapat dalam sebuah karya tulis disebut dengan unsur intrinsik. Sehingga, faktor-faktor pembangun cerita yang merupakan unsur intrinsik dapat dicari melalui bacaan yang dibserikan. Unsur intrinsik suatu karya sastra meliputi tema, tokoh/penokohan, alur, latar/setting, dan amanat.

Berikut ini adalah analisis unsur intrinsik Hikayat Patani:

Analisis Unsur Intrinsik Hikayat Patani

Baca Juga: Pengertian Hikayat dan Karakteristiknya

1. Tema: Keagamaan (Penyebaran Agama Islam di Lingkungan Kerajaan)
Tema dari suatu bacaan dapat diketahui dengan mengetahui sebagian besar isi dari bacaan. Cerita dalam kisah Hikayat Patani secara umum mengisahkan seorang Syekh berusaha membantu raja sembuh dari sakit dengan syarat mau mengikuti agama Islam.

2. Tokoh dan Penokoham:

  • Paya Tu Naqpa: suka berburu, ingkar janji, hanya patuh saat terdesak, raja yang baik
  • Syaikh Sa’id: baik hati, suka menolong, sabar, tegas, religius, tidak silau akan harta/tahta
  • Hulubalang kerajaan: patuh perintah raja
  • Encik Tani dan istrinya: berpengetahuan

3. Alur: maju
Hikayat Patani menceritakan kisah masa lalu yang disampaikan secara urut dari awal hingga akhir (maju).

5. Latar/setting:

  • Tempat: lingkungan kerajaan, daerah tepi laut, Negeri Pattani Darussalam
  • Waktu: pada masa pemerintahan Paya Tu Naqpa

6. Amanat:

  • Pentingnya gigih dalam melakukan suatu usaha
  • Harus membantu orang lain yang sedang kesulitan
  • Tidak perlu mengharapkan imbalan karena merasa sudah berjasa
  • Perlunya menepati janji dan tidak boleh bersikap curang
  • Patuh kepada raja/pemerintah/pemimpin
  • Tegas dalam bersikap dan memiliki pendirian

Baca Juga: Contoh Analisis Isi Teks Anekdot

Nilai–Nilai Yang Terkandung Dalam Cerita Hikayat Patani

Beberapa nilai yang terkandung dalam hikayat patani adalah nilai moral, agama, dan sosial. Berikut ini adalah beberapa nomor yang merupakan nilai moral dan agama dalam hikayat patani.

Nilai Moral:

  • Syekh Sa’id mengajarkan untuk tidak mengharap imbalan ketika membantu orang lain.
  • Seorang raja berjanji demi kepentingannya dan mengingkarinya setelah kepentingannya terpenuhi.
  • Seorang raja menganggap semua perbuatan dapat dibalas dengan imbalan harta dan jabatan.

Nilai Agama:

  • Raja yang menyembah berhala dibanding menyembah Tuhan.
  • Syaikh Sa’id mengajak raja dan pengikutnya agar tidak menyembah berhala dengan mengajak masuk agama Islam.
  • Raja menepati janji karena terdesak setelah dua kali ingkar untuk masuk islam.
  • Raja tidak benar menepati janjinya untuk membawa agama Islam ke kehidupannya dengan tetap menyembah berhala dan memakan babi.

Nilai Sosial:

  • Raja yang kurang membaur kepada rakyatnya sehingga ketika membutuhkan pertolongan tidak ada yang membantu.
  • Perilaku raja tidak bertanggung jawab membawa agama Islam kepada rakyat dan para mentrinya.

Baca Juga: Hikayat Si Miskin

Jenis Majas yang Digunakan dalam Hikayat Patani

Penggunaan majas termasuk dalam gaya bahasa pada suatu karya sastra tulis. Gaya bahasa dalam Hikayat Patani aslinya menggunakan Bahasa Melayu dengan pengulangan/diulang-ulan (repitisi). Selain itu, gaya bahasa dalam Hikayat Patani memuat majas personifikasi, majas pleonasme, dan majas antiklimaks.

Majas Personifikasi (Gaya Bahasa Perbandingan)

Personifikasi adalah gaya bahasa perbandingan yang digunakan untuk menggantikan fungsi benda mati yang dapat bersikap seperti manusia. Contoh majas personifikasi: Angin pantai semilir membelai rambut setiap orang di tempat itu.

Penggunaan majas personifikasi dalam Hikayat Patani:

Maka segala rakyat pun masuklah ke dalam hutan itu mengalan-alan segala perburuan itu dari pagi-pagi hingga datang mengelincir matahari, seekor perburuan tiada diperoleh”.  Kata menggelincir biasanya digunakan pada saat kaki seseorang terpeleset. Namun kata menggelincir pada kalimat tersebut digunakan untuk matahari.

Gaya Bahasa dan Penggunaan Majas pada Hikayat Patani

Majas Pleonasme (gaya bahasa penegasan)

Majas Pleonasme merupakan gaya bahasa penegasan yang menggunakan kata-kata dengan makna sama, tapi diulang-ulang. Penggunaan kata yang berulang-ulang terkesan tidak efektif namun disengaja untuk menegaskan sesuatu. Contoh: Mini bus itu berjalan mundur ke belakang untuk parkir.

Penggunaan majas pleonasme dalam Hikayat Patani:

  • Hatta ada sekira-kira dua jam lamanya maka berbunyilah suara anjing itu menyalak. → Sesuatu yang berbunyi merupakan suara.
  • Ada seekor pelanduk putih, besarnya seperti kambing, warna tubuhnya gilang gemilang. → Kata gilang berati bercahaya terang dan gemilang berarti cemerlang, dua kata tersebut memiliki makna sama.

Majas Antiklimaks (gaya bahasa penegasan)

Majas Antiklimaks adalah gaya bahasa yang menjelaskan lebih dari tingkatan tertinggi ke tingkatan terendah. Contoh kalimat dengan majas antiklimaks: Setiap warga sekolah mulai dari kepala sekolah, guru, staff, dan siswa selalu melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin.

Penggunaan majas antiklimaks dalam Hikayat Patani:

  • Arkian setelah datanglah pada keesokan harinya, maka baginda pun berangkatlah dengan segala menteri hulubalangnya diiringkan oleh rakyat sekalian. → Rombongan disebutkan dari kedudukan tertinggi raja, kemudian diikuti hulubalang dan rakyat biasa.
  • Hatta antara berapa tahun lamanya baginda di atas takhta kerajaan itu, maka baginda pun berputera tiga orang, dan yang tua laki-laki bernama Kerub Picai Paina dan yang tengah perempuan bernama Tunku Mahajai dan bungsu laki-laki bernama MahacaiPailang. → Penyebutan nama anak raja dari anak pertama (sulung), kedua (tengah), dan hingga anak ketiga (bungsu).

Demikianlah tadi ulasan analisis unsur intrinsik hikayat patani dan nilai yang terkandung di dalamnya. Bahasan juga disertai dengan gaya bahasa atau majas pada Hikayat Patani. Terimakasih sudah mengunjungi idschool(dot)net, semoga bermanfaat!

Baca Juga: Hikayat Bayan Budiman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.