Pengertian Hikayat dan Contohnya

By | August 4, 2021

Pengertian hikayat adalah salah satu jenis cerita rakyat yang disajikan menggunakan Bahasa Melayu klasik. Cerita dalam hikayat umumnya mengisahkan kehidupan keluarga istana atau kaum bangsawa atau orang ternama/suci di sekitar istana dengan segala kesaktian, keanehan, dan mukjizat tokoh utamanya. Tokoh dalam hikayat dapat merupakan manusia, hewan, atau tumbuhan. Penokohan dalam hikayat bersifat hitam putih. Artinya, tokoh yang baik biasanya selalu baik dari awal hingga akhir kisah. Selain itu, tokoh utama dalam hikayat sering digambarkan dengan wajah dan tubuh yang sempurna. Begitupula sebaliknya pada tokoh jahat selalu jahat, namun tidak selalu digambarkan sebagai tokoh yang buruk rupa.

Cerita hikayat merupakan cerita fiksi yang tidak benar-benar terjadi di kehidupan sebenarnya (bersifat khayal/fantasi). Pada kisah yang disampaikan dalam hikayat biasanya digunakan untuk menyampaikan suatu amanat. Dalam cerita hikayat biasanya mengandung nilai-nilai moral seperti nilai religius (agama), sosial, budaya, moral, dan edukasi. Karya sastra prosa klasik berbentuk hikayat dapat dikenali melalui penggunaan maka, hatta, serta bahasanya yang kaku. Hikayat termasuk dalam karya sastra kalsik yang berbentuk prosa.

Pengertian Hikayat

Baca Juga: Perbedaan Prosa dan Puisi

Apa saja karakteristik dari karya sastara berbentuk hikayat? Bagaimana kebahasaan yang digunakan pada hikayat? Apa saja contoh hikayat? Sobat idschool dapat mencari tahu jawabannya melalui ulasan di bawah.

Karakteristik Hikayat

Karakteristik hikayat adalah ciri khas yang memebedakan hikayat dengan bentuk karya sastra lainnya. Adanya karakteristik dalam hikayat dapat membuat seseorang mudah mengenali karya sastra yang berbentuk hikayat. Ada empat ciri yang menjadi karakteristik hikayat yang terdiri dari terdapat kemustahilan, terdapat kesaktian, anonim, dan istana sentris.

1. Kemustahilan

Kemustahilan adalah sesuatu yang tidak dapat diterima oleh pikiran. Kondisi ini dikarenakan peristiwa atau suatu hal tersebut tidak logis dan jarang atau bahkan sama sekali tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata. Kondisi kemustahilan biasanya hanya terjadi dalam cerita-cerita fantasi.

Contoh kemustahilan terjadi pada beberapa hikayat berikut.

  • Bayi lahir disertai pedang dan panah
    Hatta beberapa lamanya, Tuan Puteri Siti Kendi pun hamillah dan bersalin dua orang putra laki-laki. Adapun yang tua keluarnya dengan panah dan yang muda dengan pedang.
  • Seorang putri keluar dari gendang
    Lalu diambilnya pisau dan ditorehnya gendang itu maka puteri Ratna Sari pun keluarlah dari gendang itu. Ia ditaruh orangtuanya dalam gedung itu dengan suatu cembul.

2. Kesaktian

Tokoh dalam prosa hikayat banyak yang dikisahkan memiliki kehebatan yang luar biasa dan unik. Kesaktian tersebut ditunjukkan melalui kemampuan tokohnya dalam melakukan sesuatu. Misalnya mengalahkan ribuan musuh dalam satu pukulan, merobohkan istana dengan jari kelingking, dan lain-lain.

3. Anonim

Cerita dengan keterangan anonim artinya tidak diketahui nama pengarangnya secara jelas. Beredarnya cerita dengan anonim biasanya berawal/berasal dan tersebar dari mulut ke mulut. Sebagian besar cerita rakyat, termasuk hikayat, tidak diketahui siapa pengarangnya.

4. Istana sentris

Istana sentris memiliki makna bahwa cerita memiliki bentuk dan latar kerajaan. Adanya latar kerajaan biasanya ditandai melalui pengunaan kata-kata atau bahasa yang digunakannya. Contoh kata-kata tersebut seperti raja, permaisuri, tabib, istana, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Unsur-Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Puisi

Kebahasaan Hikayat

Bahasa yang biasa digunakan dalam hikayat adalah arab melayu, melayu tradisional, atau bahasa daerah. Kebahasan pada penyampaian hikayat terdiri dari dua kekhasan yaitu menggunakan majas dan konjungsi. Ada dua jenis majas yang biasanya digunakan yaitu antonomasia dan simile. Sedangkan konjungsi yang sering digunakan pada hikayat dapat berupa konjungsi urutan waktu dan kejadian.

1. Majas Antonomasia dan Simile

Majas antonomasia adalah majas yang menyebutkan seseorang berdasarkan ciri atau sifat yang menonjol. Penggunaan majas antanomasia terdapat pada penyebutan tokoh dengan si msikin, si cantik, si pintar, dan lain sebagainya. Sedangkan majas simile adalah majas yang membandingkan suatu hal dengan hal lainnya. Majas simile dapat dilihat dari adanya kata penghubung atau pembanding seperti laksana, bak, seperti, bagaikan, dan lain-lain.

Kebahasaan Hikayat
Sumber: Buku Paket Bahasa Indonesia Kelas X Kurikulum 2013 Edisi Revisi 2017

2. Menggunakan Konjungsi Urutan Waktu dan Kejadian

Konjungsi adalah kata hubung yang biasanya digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, dan klausa dengan klausa. Adanya konjungsi membuat kalimat dapat dipahami dengan baik sepenuhnya. Contoh konjungsi urutan waktu: sebelum, setelah, dan lain sebagainya. Contoh konjungsi urutan kejadian adalah lalu, maka, dan lain sebagainya.

Konjungsi pada Hikayat
Sumber: Buku Paket Bahasa Indonesia Kelas X Kurikulum 2013 Edisi Revisi 2017

Baca Juga: Macam-Macam Ungkapan Dengan Nama Hewan

Contoh Hikayat

Cerita dalam hikayat biasanya seputar kehidupan tradisi, kesetiaan terhadap adat istiadat, dan kebudayaan daerah. Tema dalam hikayat biasanya kaku, istana sentris, adat istiadat, dan mistis. Selain itu, cerita hikayat juga biasanya memiliki pengaruh dan unsur sastra Hindu dan Islam. Hikayat banyak diceritakan menggunakan bahasa klise seperti hatta, syahdan, sahibul hikayat, menurut mepunya cerita, tersebutlah perkataan, dan lain sebagainya.

Berikut ini beberapa contoh hikayat yang cukup populer di masyarakat

Contoh 1 – Hikayat Bayan Budiman

Sebermula ada saudagar di negara Ajam, Khojan Mubarok namanya, terlalu amat kaya, akan tetapi ia tiada beranak. Maka Khojah Mubarak pun minta do’a, katanya, “Ya Tuhanku! Jikalau kiranya aku beroleh anak, aku memberi sedekah makan segala fakir miskin dan darwis.” Hatta beberapa lamanya ia bernazar itu, maka dengan takdir Allah hendak melimpahkan rahmat di atas hamba-Nya, maka saudagar Khojah Mubarak pun beranaklah istrinya seorang laki-laki terlalu baik rupanya. Maka Khojah mubarak pun terlalu sukacita hatinya. Maka dinamakannya anaknya itu Khojah Maimun dan dipeliharakannya dengan sepertinya.

Setelah datanglah umurnya Khojah Maimum lima tahun, maka terlalulah baik pekertinya serta bijaksananya. Maka diserahkannya oleh bapaknya Khojah Maimun mengaji kepada mu’alim Sabian. Hatta beberapa lamanya, maka Khojah Maimun itu pun tahulah mengaji dan terlalu fasih lidahnya serta banyak ilmu yang diketahuinya.

Maka datanglah umur Khojah Maimun lima belas tahun, maka dipinanglah oleh Khojah Mubarak anak seorang saudagar, amatlah kayanya, dalam negeri Ajam itu juga, dan anaknya itu amatlah elok parasnya, namanya Bibi Zainab. Maka Khojah Maimun itu pun dinikahkan dengan anank saudagar itu. Maka duduklah Khojah Maimun berkasih-kasihan dengan istrinya Bibi Zainab itu.

Hatta beberapa lamanya Khojah Maimun beristri itu, kepada suatu hari ia pergi bermain-main ke pekan, maka bertemu dengan seorang laki-laki membawa burung bayan jantan seekor. Maka kata Khojah Maimun, “Hai laki-laki. Engkau jualkah burung itu?” Maka sahut laki-laki itu, “Jikalau samapi harganya, hamba jual juga.”

Maka kata Khojah Maimun, “Berapa harga-harga nya?” Maka kata laki-laki itu, “Seribu dinar bayan hamba ini harganya.” Maka tersenyumlah Khojan Maimun, lalu ia bertanya, “Adakah orang mau membeli burung yang segenggam ini seribu dinar? Layaknya unggas ini makanan kucing juga.”

… baca selengkapnya hikayat bayan budiman

Contoh 2 – Hikayat si Miskin

Ini hikayat cerita orang dahulu kala. Sekali peristiwa “Allah subhanahu wata’ala” menunjukkan kekayaannya kepada hambanya, maka adalah seorang miskin laki bini berjalan mencari riskinya berkeliling negeri antah berantah. Adapun nama raja di dalam negeri itu maharaja Indera Dewa namanya, terlalu amat besar kerajaan baginda itu, beberapa raja-raja di tanah dewa itu takluk kepada baginda. Dan mengantar upeti kepada baginda pada tiap-tiap tahun.

Hatta, maka pada suatu hari baginda sedang ramai dihadap oleh segala raja-raja, menteri, hulubalang, rakyat, sekalian ada di hadapan, maka si miskin sampailah ke penghadapan itu. Setelah dilihat oleh orang banyak, si miskin laki bini dengan rupa keletihannya seperti dimamah anjing rupanya, maka orang banyak itupun ramailah ia tertawa, seraya mengambil kayu dan batu maka dilemparilah akan si miskin itu kena tubuhnya habis bengkak-bengkak, berdarah.

Maka sekali tubuhnya pun berlumur dengan darah, maka orang itu gemparlah. Maka titah baginda; apakah yang gempar di luar itu? Sembah segala raja itu: “Ya Tuanku Syah Alam, orang melempari si miskin, tuanku.”

Maka titah Baginda: suruh usir jauh–jauh. Maka diusir oranglah akan si miskin itu, hingga sampailah di tepi hutan, maka orang banyak itupun kembalilah. Maka hari pun malamlah, maka bagindapun berangkatlah masuk kedalam istana itu, maka segala raja-raja dan menteri, hulubalang, rakyat itupun masing-masing pulang ke rumahnya. Adapun akan si miskin itu, apabila malam ia pun tidurlah di dalam hutan itu.

Setelah siang hari, maka ia pun pergi berjalan masuk ke dalam negeri mencari rizkinya. Maka apabila sampailah di kota kepada kampung orang, apabila orang yang empunya kampung itu melihat akan dia, maka diusirlah dengan kayu. Maka si miskin itupun larilah ia lalu ke pasar. … baca selengkapnya hikayat si miskin

Demikianlah tadi ulasan pengertian dan contoh hikayat. Terimakasih sudah mengunjungi idschool(dot)net, semoga bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.