Teori Masuknya Agama Hindu-Budha di Indonesia

By | April 5, 2021

Masuknya agama Hindu-Budha di Indonesia berkaitan erat dengan adanya hubungan dagang antara Indonesia dengan China dan India. Kedua negara yang menjalin hubungan dagang dengan Indnesia tersebut merupakan negara dengan pusat Hindu-Budha terbesar di Asia. Hubungan dagang yang dilakukan antar negara ini memicu terjadinya pembauran/pencampuran atau asimilasi budaya. Proses asimilasi yang terjadi ikut menyebarkan pulan ajaran agama Hindu-Buddha ke nusantara (sekarang Indonesia). Budaya nusantara yang tidak terlalu berbeda dengan India membuat agama Hindu-Budha mudah di terima.

Terdapat beberapa teori mengenai masuknya agama Hindu-Buddha ke nusantara yang terbagi menjadi 2 pendapat. Pendapat pertama menyebutkan bahwa masyarakat nusantara berperan pasif dalam proses masuknya agama Hindu-Budha. Ada tiga teori yang menjelaskan pendapat pertama yaitu teori Brahmana, Waisya, dan Ksatria. Sedangkan pendapat kedua menyebutkan bahwa masyarakat nusatara berperan aktif dalam proses masuknya agama Hindu Budha. Pendapat kedua dijelaskan dalam dua teori yaitu teori arus balik dan teori Sudra.

Teori Masuknya Agama dan Kepercayaan Hindu-Budha di Indonesia

Bagaimana penjelasan masing-masing teori pada kedua pendapat masuknya agama Hindu-Budha ke Indonesia? Sobat idschool dapat mencari tahu jawabannya melalui ulasan di bawah.

Baca Juga: Latar Belakang Pembentukan ASEAN

Masayarakat Nusantara Berperan Pasif Terhadap Masuknya Agama Hindu-Budha di Indonesia

Pendapat pertama mengenai teori-teori masuknya agama Hindu-Budha di Indonesia adalah masyarakat berperan pasif. Menurut pendapat ini, masyarakat nusantara dianggap hanya sekedar menerima budaya dan agama dari India. Terdapat tiga teori yang menjelaskan pendapat pertama yaitu teori Brahmana oleh J. C. van Leur, Waisya oleh N. J. Krom, dan Ksatria oleh C. C. Berg, Mookerji, dan J. L. Moens.

1. Teori Brahmana oleh J. C. van Leur

Teori Brahmana menyatakan bahwa masuknya ajaran Hindu-Budha ke Indonesia dibawa oleh para Brahmana yaitu golongan pemuka agama di India. Landasan dari teori Brahmana berdasarkan prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Hindu-Budha di Indonesia. Beberapa peningalan sejarah berupa prasasti yang ditemukan menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Saksekerta. Di India, aksara dan bahasa tersebut hanya dikuasai oleh golongan Brahmana.

Pada masa itu, ajaran Hindu yang utuh dan benar hanya boleh dipahami oleh para Brahmana. Sehingga, hanya orang-orang golongan Brahmana yang dianggap berhak menyebarkan ajaran Hindu.

Menurut teori yang dikemukanan J. C. van Leur ini, para Brahmana diundang ke nusantara oleh para kepala suku untuk menyebarkan ajarannya. Pada masa itu, kebanyakan masyarakat nusantara masih memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme.

2. Teori Waisya oleh N. J. Krom

Ajaran agama Hindu-Budha menurut Teori Waisya masuk ke nusantara berkat peran serta golongan Waisya (pedagang).  

Kelompok pedagang disebut sebagai golongan terbesar masyarakat India yang melakukan interaksi dengan masyarakat nusantara. Dalam teori yang dikemukakan oleh N. J. Krom ini, para pedagang India dianggap telah memperkenalkan kebudayaan Hindu dan Budha pada masyarakat lokal ketika mereka melakukan aktivitas perdagangan.

Pada saat itu, pelayaran sangat bergantung pada musim angin sehingga memaksa para pedagang India yang berdagang di nusantara untuk menentap sementara,

Para pedagang akan menetap selama beberapa waktu di kepulauan Nusantara sampai angin laut berhembus ke India yang bisa membawa mereka kembali pulang. Selama menetap, para pedagang India melakukan dakwahnya pada masyarakat lokal di nusantara.

3. Teori Ksatria oleh C. C. Berg, Mookerji, dan J. L. Moens

Penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia menurut teori Ksatria dilakukan oleh golongan ksatria. Teori yang dikemukanan oleh C. C. Berg, Mookerji, dan J. L. Moens ini dikaitkan dengan sejarah India pada periode yang sama,

Diketahui bahwa pada awal abad ke-2 Masehi, beberapa kerajaan di India mengalami keruntuhan karena adanya perebutan kekuasaan. Penguasa-penguasa dari golongan ksatria di kerajaan yang mengalami kekalahan pada masa itu disebut melarikan diri ke Nusantara. Golongan ksatria yang tiba di nusantra kemudian membuat wilayah kekuasaan melalui kerajaan baru yang bercorak Hindu-Budha.

Dalam perkembangannya, golongan ksatria turut menyebarkan ajaran dan kebudayaan agama Hindu-Buda kepada masyarakat lokal nusantara.

Baca Juga: Ringkasan Singkat Sejarah Kerajaan Majapahit

Masayarakat Nusantara Berperan Aktif Terhadap Masuknya Agama Hindu-Budha di Indonesia

Pendapat kedua mengenai teori masuknya agama Hindu-Budha ke nusantara menerangkan bahwa masyarakat nusantara ikut berperan aktif. Artinya, masyarakat nusantara tidak hanya sekedar menerima budaya dan agama dari India namun ikut membantu menyebarkannya. Ada dua teori yang menjelaskan pendapat kedua ini yaitu teori Sudra dan teori arus balik.

1. Teori Sudra oleh van Faber

Pada teori Sudra, penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Budha masuk ke nusantara diawali oleh para kaum Sudra atau golongan budak. Golongan budak yang melakukan migrasi ke wilayah Nusantara menetap dan menyebarkan ajaran agama Hindu-Budha pada masyarakat pribumi. Penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Budha yang dilakukan kemudian menggantikan arah kepercayaa masyarakat nusantara. Awalnya, masyarakat nusantara yang menganut animisme dan dinamisme menjadi percaya pada ajaran Hindu dan Budha.

Namun teori yang didukung van Faber ini dianggap lemah karena kaum sudra tidak mengerti seluk beluk dari ajaran agama Hindu dalam Kitab Suci Weda. Selain itu, golongan budak juga disebut tidak menguasai bahasa Sansekerta.

2. Teori Arus Balik oleh F. D. K. Bosch

Teori arus balik menerangkan bahwa masyarakat nusantara ikut aktif dalam penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Budha. Menurut teori arus balik, tokoh pertama yang menyebarkan Hindu-Buddha adalah para intelektual yang semangat untuk menyebarkan agama Hindu-Budha. Mereka ikut menumpang kapal-kapal dagang, kemudia sasampainya di Indonesia, mereka menyebarkan ajarannya. Adanya pengaruh tersebut membuat beberapa tokoh masyarakat nusantara tertarik mengikuti dan mempelajari ajarannya agama Hindu-Buhda.

Selanjutnya, banyak tokoh masyarakat nusantara yang pergi ke India untuk berkunjung dan belajar agama Hindu-Buddha di sana. Setelah para pelajar menuntut ilmu di sana, mereka kembali ke Indonesia dan selanjutnya menyebarkan pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia.

Bukti dari teori yang disampaikan F. D. K. Bosch terdapat pada prasasti Nalanda.

Prasasti Nalanda menyebutkan bahwa Raja Dewa Paladewa dari Nalanda (India Timur) membebaskan lima buah desa dari pajak. Sebagai imbalannya, kelima desa itu wajib membiayai para mahasiswa dari Kerajaan Sriwijaya yang menuntut ilmu di Kerajaan Nalanda. Hal ini merupakan wujud penghargaan sebab Raja Balaputradewa dari Kerajaan Sriwijaya saat itu mendirikan vihara di Nalanda. Vihara di Nalanda ini yang berfungsi sebagai tempat untuk menimba ilmu para tokoh dari Sriwijaya.

Baca Juga:

Peta Jalur Masuknya Agama Hindu-Budha di Indonesia

Budaya Hindu-Buddha memiliki berpengaruh yang cukup banyak bagi bangsa Indonesia, bahkan samapi sekarang. Sejarah meninggalkan berbagai macam peninggalan serta jejak-jejak atau bukti adanya Hindu-Buddha di Indonesia. Bukti masuk dan berkembangnya kebudayaa Hindu-Budha diperoleh dari prasasti atau bangunan yang ditinggalkan.

Berkembangnya budaya Hindu dan Budha berasal India yang sampai ke nusantara melalui jalur darat maupun jalur laut. Masuk dan berkembangya kebudayaa Hindu-Budha tidak lepas dari adanya hubungan dan aktifitas perdagangan. Gambaran peta jalur masuknya dan berkembangnya kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia ditunjukkan seperti berikut.

Masuknya Agama Hindu-Budha di Indonesia

Demikianlah tadi ulasan teori masuknya agama Hindu-Budha di Indonesia. Dari kelima teori yang telah disebut di atas, teori Brahmana yang dikemukakan oleh J. C. Van Leur dianggap sebagai teori terkuat karena ditunjang oleh bukti-bukti nyata. Masuknya agama dan kebudayaan Hindu-Budha di nusantara inilah yang kemudian menjadi awal dari berdirinya berbagai kerajaan dengan corak Hindu-Budha di nusantara. Terimakasih sudah mengunjungi idschoo(dot)net, semoga bermanfaat.

Baca Juga: 5 Faktor yang Menyebabkan Runtuhnya Kerajaan Majapahit dan Menjadi Kerajaan Terakhir dengan Corak Hindu-Budha di Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.