Teori Pembentukan Muka Bumi

By | June 4, 2021

Permukaan bumi diperkirakan mengalami perubahan dari waktu ke waktu yang dapat dibuktikan melalui beberapa fenomena alam. Ada enam teori yang menyebetukan bagaimana bentuk permukaan bumi menjadi seperti sekarang. Keenam teori pembentukan muka bumi tersebut meliputi teori kontraksi, apungan benua (continental drift), teori dua benua, konveksi, pergeseran dasar laut, dan lempeng tektonik. Proses bagaimana bumi terbentuk dan mengalami perubahan dari waktu ke waktu dipelajari dalam cabang ilmu yang disebut geologi.

Permukaan bumi (kerak bumi) merupakan bagian dari litosfer yang terdiri dari batuan beku, sedimen, dan metamorf. Bumi sendiri merupakan salah satu planet dalam sistem tata surya yang diperkirakan terbentuk sekitar 5.000 juta tahun yang lalu. Ilmu pengetahuan menyebutkan bahwa Bumi pada awalnya merupakan planet yang sangat panas dengan suhu permukaannya mencapai 4.000 °C. Dalam jangka waktu jutaan tahun, suhu bumi kemudian turun dan mengakibatkan terjadinya pembekuan bagian permukaan bumi (bagian litosfer). Sedangkan bagian dalam Planet Bumi sampai saat ini masih dalam keadaan panas dan berpijar.

Permukaan Bumi Berada pada Bagian Kerak Bumi paling Atas

Apa saja teori yang menjelaskan pembentukan muka bumi? Apa bukti yang menjadi bukti dari teori pembentukan muka bumi? Sobat idschool dapat mencari tahu jawabannya melalui ulasan di bawah.

Baca Juga: 3 Jenis Batuan Penyusun Litosfer Bumi

1. Teori Kontraksi

Teori Kontraksi pertama kali dikemukakan oleh Descrates yang didukung oleh James Dana dan Elie de Baumant. Ide atau gagasan dalam teori kontraksi menerangkan bahwa bumi semakin lama semakin susut dan mengerut. Kondisi tersebut terjadi karena adanya proses pendinginan di bagian dalam bumi akibat konduksi panas. Pengerutan yang terjadi ini kemudian disebut sebagai alasan yang mengakibatkan bumi menjadi tidak rata dan berbentuk relief. Bagian muka bumi berbentuk relief terdiri dari gunung, lembah, dataran, dan berbagai bentuk muka bumi lainnya. Namun, teori kontraksi tidak menyertakan bukti yang kuat sehingga tidak banyak mendapat dukungan.

Teori Kontraksi pada Teori Pembentukan Muka Bumi

2. Teori Dua Benua (Laurasia-Gondwana Theory)

Teori Laurasia-Gondwana kali pertama dikemukakan oleh Edward Zuess pada tahun 1884. Ide dari teori dua benua menyatakan bahwa bumi pada mulanya hanya terdapat dua benua besar yaitu Laurasia dan Gondwana. Antara Benua Laurasia dan Gondwana terdapat sebuah samudra yang diberi nama Samudera Tethys. Letak Benua Laurasia berada di atas equator atau di sekitar kutub utara. Letak Benua Gondwana berada di bawah equator atau di sekitar kutub selatan bumi.

Kedua benua tesebut kemudian bergerak perlahan dan kemudian terpecah-pecah membentuk benua-benua yang tampak seperti sekarang. Benua Laurasia terpecah menjadi Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Sedangkan Benua Gondwana terpecah menjadi Afrika, Australia, dan Amerika Selatan.

Teori Dua Benua

3. Teori Apungan Benua (Continental Drift)

Tokoh yang pertaman kali mengenalkan teori apungan benua adalah Alfred Lothar Wegener pada tahun 1912. Melalui teori apungan benua, A. L. Wegener menerangkan bahwa pada awalnya bumi terdiri dari satu benua besar yang disebut Pangea dan sebuah samudera luas yang disebut Panthalassa. Selanjutnya, benua tersebut kemudian terpecah-pecah dan terus mengalami perubahan melalui pergerakan dasar laut. Gerak rotasi bumi mengakibatkan pecahan benua tersebut bergerak ke arah barat menuju ekuator.

Teori iapungan benua didukung oleh bukti-bukti berupa kesamaan garis pantai Afrika bagian barat dengan Amerika Selatan bagian timur. Selain itu, bukti lain ditunjukkan melalui adanya kesamaan batuan dan fosil di kedua daerah tersebut.

Teori Pembentukan Muka Bumi

Baca Juga: Beberapa Fenomena Alam yang Menjadi Bukti Teori Apungan Benua

4. Teori Arus Konveksi

Teori Konveksi dikemukakan oleh Arthur Holmes dan Harry H. Hess yang kemudian dikembangkan lanjut oleh Robert Diesz. Pada teori ini mejelaskan bahwa di dalam bumi pada bagian astenosfer terjadi arus konveksi ke arah vertikal oleh material berupa lava kental. Arus konveksi yang membawa lava sampai ke permukaan bumi pada mid oceanic ridge atau punggungan tengah samudera. Lava tersebut kemudian membeku setelah sampai ke permukaan dan membentuk lapisan kulit bumi yang baru. Lapisan baru tersebut menggeser dan menggantikan kulit bumi yang lebih tua.

Bukti kebenaran dari teori konveksi adalah adanya mid Atlantic Ridge (punggung tengah Atlantik) dan Pacific-Atlantic Ridge (Punggung Pasifik-Atlantika) di permukaan bumi. Bukti lainnya didasarkan pada penelitian umur dasar laut, diketahui bahwa semakin jauh dari punggung tengah samudra maka umur batuan semakin tua. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa terdapat gerakan yang berasal dari mid oceanic ridge ke arah yang berlawanan karena adanya arus konveksi dari lapisan di bawah kulit bumi.

5. Teori Lempeng Tektonik

Gagasan teori lempeng tektonik berasal dari hipotesis teori pembentukan muka bumi sebelumnya yaitu teori apungan benua oleh A. L. Wegener. Tokoh dibalik teori lempeng tektonik adalah McKenzie dan Robert Parker pada tahun 1967 yang kemudian disempurnakan John Tozo Wilson dalam perkembangannya. Teori lempeng tektonik ini disebut menjadi penyempurnaan dari teori-teori sebelumnya.

Menurut teori Lempeng Tektonik, kulit bumi terdiri atas beberapa lempeng tektonik yang berada di litosfer atau kerak bumi. Sifat material yang berada di bawah litosfer yaitu astenosfer adalah cair kental dan panas sehingga terjadi arus konveksi. Lempeng-lempeng pembentuk kulit bumi ini selalu bergerak karena adanya pengaruh arus konveksi dari lapisan astenosfer. Adanya pergerakan lempeng tektonik inilah yang menyebabkan bentuk muka bumi mengalami perubahan hingga seperti sekarang.

Lempeng-lempeng utama pada Planet Bumi terdiri dari 6 lempeng benua dan 1 lempeng samudra. Enam lempeng benua meliputi Lempeng Eurasia, Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika, Indo-Australia, dan Antartika. Sedangkan satu buah lempeng samudra adalah Lempeng Pasifik.

Daftar lempeng-lempeng utama dan cakupan wilayahnya:

  • Eurasia: meliput wilayah Eropa, Asia, dan daerah pinggirannya termasuk Indonesia
  • Amerika Utara: meliputi wilayah Amerika Utara dan timur laut Siberia
  • Amerika Selatan: meliputi wilayah Amerika Selatan
  • Afrika: meliputi wilayah Afrika, setengah bagian timur Lautan Atlantik, dan barat laut Lautan Hindia
  • Indo-Australia: meliputi lempeng Lautan Hindia serta sub kontinen India dan Australia bagian barat
  • Antartika: meliputi wilayah Antartika dan lempeng Lautan Antartika
  • Pasifik: meliputi wilayah di Samudera Pasifik

Demikianlah tadi ulasan teori pembentukan muka bumi yang meliputi teori kontraksi, dua benua (Laurasia-Gondwana), apungan benua, konveksi, dan lempeng tektonik. Terimakasih sudah mengunjungi idschool(dot)net, semoga bermanfaat!

Baca Juga: Lapisan Air yang Menyelimuti Bumi (Hidrosfer)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.