Tata Nama Senyawa Kimia (Ionik dan Kovalen)

By | September 2, 2019

Tata Nama Senyawa Kimia – Pada awalnya, zat kimia diberi nama sesuai dengan nama penemunya, nama tempat, nama zat asal, sifat zat, dan lain-lain. Semakin bertambahnya jumlah zat yang ditemukan, baik alami atau buatan, maka dinilai perlu dirasa perlu untuk membuat tata nama senyawa kimia agar memudahkan penyebutan nama suatu zat. Oleh karena itu, IUPAC (International Union Pure and Applied Chemistry) selaku badan internasional yang membuat tata nama zat kimia merumuskan tata cara memberi nama senyawa kimia yang ada di dunia ini. Bagaimana tata nama senyawa kimia yang sesuai dengan IUPAC? Sobat idschool dapat mencari tahunya melalui halaman ini.

Dalam tata nama senyawa kimia, penamaan senyawa dikelompokkan menjadi 2 yaitu senyawa organik dan  senyawa anorganik. Penamaan senyawa anorganik dibagi dua yaitu senyawa biner dan senyawa poliatomik. Dalam penamaan senyawa biner dikelompokkan lagi menjadi dua yaitu senyawa yang mengandung dua jenis yaitu senyawa kovalen (non logam – non logam) dan senyawa ionik (logam – non logam).

Tata Nama Senyawa

Bahasan tata nama senyawa yang akan diulasn melalui halaman ini, lebih berfokus pada tata nama senyaw aanorganik. Untuk tata nama senyawa organik dibahas pada halaman lainnya. Masing – masing cara memberi nama atau tata nama senyawa kimia beserta contoh soal tata nama senyawa dan pembahasannya akan diulas lebih lanjut pada bahasan di bawah.

Bacac Juga: Praktikum Kimia – Hubungan Koefisien Reaksi dan Jumlah Mol Reaktan

Tata Nama Senyawa Biner

Senyawa biner adalah senyawa yang hanya terbentuk dari dua macam unsur yang berbeda. Kedua unsur tersebut dapat berupa logam dengan non logam (senyawa ionik) atau berupa non logam dengan non logam (senyawa kovalen). Cara memberi nama senyawa ionik akan berbeda dengan cara memberi nama senyawa kovalen. Bagaimana cara memberi nama senyawa biner? Berikut ini ulasannya.

Senyawa Ionik: Non Logam – Logam Rumus Senyawa Ionik: Rumus senyawa ion ditentukan oleh perbandingan muatan kation dan anionnya. Sehingga terbentuk persamaan dengan jumlah muatan positif sama dengan jumlah muatan negatif. Jumlah muatan ion suatu atom dibahas dalam ulasan cara menentukan bilangan oksidasi.

Tata Nama Senyawa Ionik

Jika senyawa biner terdiri atas atom logam dan nonlogam dengan logam yang hanya mempunyai satu macam muatan/bilangan oksidasi, maka namanya cukup dengan menyebut nama kation (logam) dan diikuti nama anionnya (nonlogam) dengan akhiran – ida.

Contoh penamaan senyawa ionik dengan

  1. Na+ + Cl → NaCl (Natrium klorida)
  2. 3 Mg2+ + 2 N3– → Mg3N2 (Magnesium nitrida)
  3. Ca2+ + O2– →CaO (Kalsium oksida)
  4. 2 Al3+ + 3 S2– → Al2S3 (Aluminium sulfida)
  5. Zn2+ + 2 Cl → ZnCl2 (Seng klorida)

Pada atom logam yang bertindak sebagai kation mempunyai lebih dari satu muatan/bilangan oksidasi, maka nama senyawa diberikan dengan menyebut nama logam + (bilangan oksidasi logam) + anionnya (non logam) dengan akhiran – ida.

Contoh tata nama senyawa biner dari logam yang mempunyai satu bilangan oksidasi (logam pada gologan B).

  1. Cu2O = tembaga (I) oksida
  2. CuO = tembaga (II) oksida
  3. FeCl2 = Besi (II) Klorida
  4. FeCl3 = Besi (III) Klorida
  5. Fe2S3 = Besi (III) Sulfida
  6. SnO = timah (II) oksida
  7. SnO2 = timah (IV) oksida

Senyawa Kovalen: Non Logam – Non Logam

Pada senyawa biner yang terdiri atas atom unsur nonlogam dan nonlogam, maka penamaan dimulai dari nonlogam pertama diikuti nonlogam kedua dengan diberi akhiran – ida.

Contoh tata nama senyawa biner untuk senyawa yang tersusun atas nonlogam – nonlogam:

  1. HCl : Hidrogen klorida
  2. ClF : Klorin flourida
  3. HBr : Hidrogen bromida
  4. Ibr : Iodin Bromida

Senyawa yang tersusun dari dua jenis non logam dapat membentuk lebih dari satu macam senyawa. Sehingga, dalam penamaan senyawa kovalen ini memerlukan awalan Yunani.

Awalan Yunani Untuk Tata Nama Senyawa Kovalen

Contoh – contoh tata nama senyawa biner dari unsur yang dapat membentuk lebih dari satu macam senyawa:

  1. CO : Karbon monoksida
  2. CO2 : Karbon dioksida
  3. NO : Nitrogen monoksida
  4. NO2 : Nitrogen dioksida
  5. N2O : Dinitrogen monoksida
  6. N2O5 : Dinitrogen pentaoksida

Tata Nama Senyawa Poliatomik

Senyawa anorganik poliatomik pada umumnya merupakan senyawa ion yang terbentuk dari kation monoatomik dengan anion poliatomik atau kation poliatomik dengan anion monoatomik/poliatomik. Penamaan dimulai dengan menyebut kation diikuti anionnya.

Beberapa Jenis Ion Poliatomik yang cukup sering digunakan pada soal penamaan senyawa kimia adalah sebagai berikut.

  1. Asetat : CH3COO
  2. Fosfit : PO33–
  3. Fosfat : PO43–
  4. Hidroksida : OH
  5. Karbonat : CO32–
  6. Klorit : ClO2
  7. Klorat : ClO3
  8. Perklorat : ClO4
  9. Nitrat : NO3
  10. Nitrit : NO2
  11. Sulfit : SO32–
  12. Sulfat : SO42–

Dalam senyawa poliatomik terdapat juga bahasan mengenai tata nama senyawa asam dan tata nama senyawa hidrat. Penjelasan kedua tata nama senyawa kimia diberikan seperti dua penjelasan berikut.

Tata Nama Senyawa Asam: Asam adalah zat yang jika dilarutkan di dalam air akan terlarut dan terurai menghasilkan ion hidrogen (H+) dan ion negatif. Semua asam diawali dengan hidrogen kecuali asam organik dan air.

Pada umumnya asam merupakan senyawa biner yang mengandung hidrogen, oksigen, dan unsur nonlogam. Semua asam dinamai dengan awalan asam yang diikuti nama ion negatifnya.

Contoh nama senyawa asam dapat dilihat pada daftar berikut.

  1. HF : Asam fluorida
  2. HCl :Asam klorida
  3. HBr : Asam bromida
  4. HI : Asam iodida
  5. H2SO4 : Asam sulfat
  6. HClO : Asam hipoklorit
  7. HClO2 : Asam klorit
  8. HClO3 : Asam klorat
  9. HClO4 : Asam perklorat
  10. HNO3 : Asam nitrat
  11. H2C2O4 : Asam oksalat
  12. H3PO3 : Asam fosfit
  13. H3PO4 : Asam fosfat
  14. H2CrO4 : Asam kromat
  15. H2CO3 : Asam karbonat

Tata Nama Senyawa Hidrat: beberapa senyawa yang berwujud kristal mampu mengikat air dari udara atau bersifat higroskopis, sehingga kristal senyawa tersebut mengandung “air kristal”. Senyawa yang mengandung air kristal disebut hidrat. Kristal hidrat tidak berair karena molekul air terkurung rapat dalam kristal senyawa. Senyawa hidrat dinamai dengan menambahkan awalan angka Yunani yang menyatakan banyaknya air kristal hidrat di akhir nama senyawa tersebut.

Contoh nama senyawa hidrat:

  1. CuSO4 . 5 H2O : tembaga(II) sulfat pentahidrat
  2. CaSO4 . 2 H2O : kalsium sulfat dihidrat
  3. Na2CO3 . 10 H2O : natrium karbonat dekahidrat

Tata Nama Senyawa dengan Nama Umum

Senyawa yang memiliki nama umum boleh tidak menggunakan tata nama menurut IUPAC. Beberapa nama senyawa yang memiliki nama umum diberikan deperti daftar berikut.

  1. H2O : Air
  2. NH3: Amoniak
  3. CO2 : Es kering/dry ice
  4. NaCl : Garam dapur
  5. CaO : Kapur tohor
  6. CaCO3 : Marmer/batu kapur
  7. Ca(OH)2 : Kapur tulis
  8. NaHCO3 : Soda kue
  9. CaSO4 . 2 H2O : Gips
  10. Ca(ClO)2 : Kaporit
  11. MgSO4 . 7 H2O : Garam Inggris
  12. Mg(OH)2 : Susu magnesia
  13. CuSO4 . 5 H2O : Terusi

Sekian ulasan materi tata nama senyawa kimia yang meliputi tata nama senyawa biner (Logam – Non Logam dan Non Logam – Non Logam), tata nama senyawa poliatomik yang memuat tata nama senyawa asam dan tata nama senyawa hidrat, dan tata nama senyawa untuk nama umum yang diperbolehkan tanpa mengikuti aturan penamaan IUPAC. Terimakasih Sudah Mengunjungi idschool(dot)net, semoga bermanfaat.

Baca Juga: Senyawa Hidrokarbon – Alkana Alkena Alkuna