7 Unsur Intrinsik Cerpen dan Cara Menentukannya

By | April 22, 2020

Cerpen adalah kependekan dari cerita pendek, yaitu salah satu karya tulis berupa prosa narasi fiktif. Isi cerpen biasanya hanya fokus pada satu permasalahan atau konflik. Cerita yang dimuat dalam cerpen tersusun dari unsur – unsur penyusunnya. Dalam sebuah karya tulis terdapat unsur – unsur yang membangun dari dalam. Unsur tersebut disebut unsur intrinsik. Begitu juga dalam karya tulis berupa cerpen, terdapat unsur intrinsik yang menyusunnya. Unsur intrinsik cerpen adalah unsur yang membangun cerpen dari dalam isi cerpen itu sendiri.

Perhatikan sebuah komputer tersusun atas beberapa perangkat sehingga membuatnya dapat berfungsi dengan baik. Unsur intrinsik ibarat perangkat penyusun komputer. Salah satu perangkat rusak, maka komputer tidak dapat berfungsi dengan baik. Begitupun dengan unsur intrinsik, salah satu unsur hilang, maka karya tulis menjadi kurang. Ada tujuh unsur intrinsik cerpen yang menyusun dari dalam. Tujuh unsur intrinsik cerpen tersebut terdiri dari tema, tokoh dan penokohan, alur, latar/setting, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat.

Unsut Intrinsik Cerpen dan Contohnya

Bagaimana penjelasan dari ketujuh unsur intrinsik cerpen tersebut? Melalui halaman ini, sobat idschool dapat mencari tahu jawabannya pada masing – masing ulasan di bawah.

1. Tema

Unsur intrinsik cerpen yang pertama adalah tema. Tema merupakan bagian pokok dari dari setiap karya tulis, termasuk cerpen. Keberadaan tema menjadi sangan penting dari sebuah karya tulis. Mengapa? Karena tema menjadi ide/gagasan dasar yang melatar belakangi keseluruhan cerita yang ada dari cerpen.

Penentuan tema dapat dilakukan secara bebas menganai apa saja. Tema sebuah cerpen dapat diambil dari lingkungan sekitar, permasalahan di masyarakat, kisah pribadi pengarang, pendidikan, sejarah, cinta, persahabatan, dan lain – lain.

Contoh Soal Menentukan Tema

Bacalah potongan cerpen berikut!

Sam tersenyum mengenang percakapan hari itu. Malaikat memang tidak bersayap. Kadang juuga berjubah. Mendarat di Bandara Juanda, Sam takjub tidak henti – henti. Ribuan orang hilir – mudik, datang dan pergi. Semua berdesakan, berebut ingin pulang. Saling sikut. Saling gencet. Saling seruduk.

Tiba di Baureno, menumpang ojek, sampailah ia di kampung halaman yang “mewah” alias mepet sawah. Sam memeluk Emak erat – erat. Air mata hampir tumpah. Lalu disodorkannya baju lebaran itu dengan wajah berseri – seri. Emak mematung, hanya tersenyum.

“Sam, untuk apa baju baru? Emak sudah tua, tidak butuh baju baru.”

“Tetapi, ini lebaran, Mak.”

“Mbok pikir Makmu ini anak – anak? Mak malah mengira kamu tidak pulang, Le. Ngeri melihat berita di TV. Dari mana saja orang – orang itu? Tumpah ruah mau mudik. Kecelakaan di mana-mana.”

Dikutip dari: Wina Bojonegro, ” Sam, Soe, Emak” dalam Media Indonesia 3 Juli 2016

Apa tema dari bacaan di atas?

Untuk mengetahui tema dari suatu bacaan, sobat idschool perlu membaca isi bacaan terlebih dahulu. Baca cerpen secara sekilas untuk menghemat waktu. Cermati dengan baik pada bagian penting dari bacaan. Berikan kesimpulan yang mewakili tema dari bacaan.

Dari potongan cerpen yang diberikan dapat diperoleh informasi bahwa Sam mudik saat lebaran. Hal ini dapat diperoleh dari adanya informasi bandara, rumah di kampung halaman, dan baju baru untuk lebaran.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa tema dari potongan cerpen di atas adalah pulang kampung.

Baca Juga: Tips Menentukan Ide Pokok Bacaan

2. Tokoh dan Penokohan

Keberadaan unsur tokoh dan penokohan merupakan bagian pokok dari sebuah cerpen yang harus ada. Tidak ada tokoh/penokohan dalam sebuah cerpen sama saja tidak ada cerita. Tokoh dan penokohan merupakan dua hal yang berbeda. Tokoh merupakan subjek yang sengaja dihadirkan sebagai pelaku cerita dalam sebuah cerpen. Penokohan adalah bagaimana cara menggambarkan tokoh dalam sebuah cerita.

Ada tiga jenis tokoh dalam sebuah cerita yaitu tokoh utama, pembantu, dan figuran.

  • Tokoh utama: pelaku yang menjadi pusat cerita
  • Tokoh pembantu: pelaku yang dilibatkan atau dimunculkan untuk mendukung jalan cerita dan memiliki kaitan dengan tokoh utama
  • Figuran: pelaku yang dimunculkan untuk mendukung jalan cerita tetapi tidak memiliki kaitan dengan tokoh utama

Berdasarkan watak tokoh, tokoh dikelompokkan menjadi tiga yaitu protagonis, antagonis, dan tritagonis.

  • Protagonis: tokoh yang memiliki sikap atau karakter baik
  • Antagonis: tokoh dengan karakter jahat (iri, dengki, sombong, angkuh, congkak, dsb), menjadi lawan dari tokoh protagonis
  • Tritagonis: tokoh sebagai karakter penengah (arif dan bijaksana), bertugas menengahi konflik di antara tokoh protagonis dengan tokoh antagonis

Penokohan watak dari tokoh daoat disampaikan dengan 2 metode, yaitu metode analitik dan dramatik.

  • Analitik: metode penyampaian watak tokoh dengan cara memaparkan secara langsung.
  • Dramatik: metode penyampaian sifat tokoh secara tersirat, biasanya disampaikan melalui tingkah laku tokoh dalam cerita.

Contoh Soal Tokoh dan Penokohan

Simak dua buah soal tentang tokoh dan penokohan pada contoh berikut. Sebuah soal untuk tokoh. Dan satu lagi untuk penokohan.

Contoh 1 – Menentukan Watak Tokoh

Bacalah kutipan cepren berikut!

Aku pun bertanya, seperti biasanya, “Biar apa, Ayah?”

“Biar kamu tidak sombong jadi manusia, Zarah.” ujarnya sambil tersenyum, lalu mengecup keningku. Seperti biasanya.

Di tengah orang yang berlomba – lomba menjadi patung lilin, Ayah adalah salah satu dari sedikit orang yang memilih untuk tetap menjadi manusia.

Watak tokoh ayah pada kutipan cerpen tersebut adalah ….
A. sombong
B. rendah hati
C. religius
D. bijaksana
E. tabah

Pembahasan:

Watak tokoh pada kutipan cerita di atas digambarkan melalui percakapan antartokoh dan tanggapan tokoh lain. Perhatikan kalimat kedua berisi pernyataan tokoh ayah yang berbunyi “Biar kamu tidak sombong jadi manusia, Zarah.”  Kalimat tersebut menunjukkan watak tokoh ayah yang tidak menyukai sifat sombong. Atau dalam kata lain dapat dikatakan bahwa watak tokoh ayah adalah rendah hati.

Jawaban: B

Contoh 2 – Soal Penokohan

Bacalah kutipan berikut!

Aku dan kakakku ibarat minyak dengan air. Sikap dan gagasan yang kami lontarkan selalu berbeda. Sebagai adik, aku mengalah karena ingin selalu menjaga hubungan baik. Apalagi usia kami yang semakin merambat tua.

Unsur intrinsik yang dominan dalam kutipan novel tersebut adalah ….
A. tema
B. latar
C. alur
D. penokohan
E. amanat

Pembahasan:

Isi kutipan bacaan pada soal adalah mengenalkan tokoh aku dan kakakku. Tokoh aku dan kakakku selalu berbeda pendapat. Tokoh aku (adik) memiliki watak suka mengalah. Unsur intrinsik yang dominan dalam kutipan novel tersebut adalah penokohan.

Jawaban: D

Baca Juga: Contoh Struktur Kalimat yang Benar

3. Alur

Alur adalah urutan jalan cerita untuk menyampaikan urutan kejadian yang diinginkan oleh penulis. Tahapan alur cerita sebuah bacaan terdiri dari tahap perkenalan, penanjakan, klimaks, anti klimaks, dan penyelesaian.

Unsur Intrinsik Cerpen untuk Alur

Alur sebuah cerita sangat diperlukan agar pesan cerita tersampaikan dengan baik. Alur cerita yang baik juga akan membuat pembacanya memahami cerita dengan baik. Biasanya, urutan alur pada cerpen meliputi perkenalan – munculnya konflik – puncak konflik – penyelesaian masalah.

Cerita dapat disampaikan dengan tiga alur yang berbeda. Tiga alur tersebut meliputi alur maju, mundur, dan campuran.

  • Alur maju: rangkaian cerita yang bergerak maju ke depan. Jalan cerita pada alur maju mempunyai urutan runtut sesuai dengan tahapan – tahapannya. Alur jenis ini menggambarkan jalan cerita yang urut dari awal perkenalan tokoh, situasi yang menimbulkan konflik, puncak konflik, dan terakhir penyelesaian konflik.
  • Alur mundur: rangkaian cerita yang bergerak mundur kebelakang. Urutan alur pada jenis ini dimulai dari menceritakan konflik terlebih dahulu. Setelah itu, cerita dibuat menengok kembali peristiwa yang menjadi sebab konflik itu terjadi. Alur ini biasanya digunakan untuk bercerita tentang masa lalu.
  • Campuran: merupakan perpaduan antara alur maju dan alur mundur.

Contoh Soal Menentukan Alur Cerita

Bacalah potongan cerita berikut!

(1)Cerita tentang harimau yang menyergap kambing milik Seron itu cepat beredar. Orang – orang penasaran, mereka segera mengikuti jejak kaki harimau yang membekas di tanah dan bekas badan kambing yang diseret. Hanya beberapa ratus meter, mereka menemukan tulang belulang dan sisa – sisa kambing malang. Di sana pula, orang – orang kampung menemukan sisa hewan lainnya yang mulai membusuk.

(2) Lantaran inilah, orang – orang mulai memasukkan ternakknya ke dalam kandang. Cara lain, hewan – hewan itu diikat dan merumput du rabfab dusun. Tak dibiarkan lagi berkeliaran sampai dekat hutan rimba itu. Tetapi, cara ini tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Rasa lapar di perutnya, membuat harimau mengubah sasaran.

(3)Tiga minggu tak mendapatkan ternak lagi, dia menyergap anaknya Kudik. Bocah laki – laki enam tahun itu diterkamnya saat sedang bermain perang – perangan dengan kawan – kawannya di darat dusun. Kawan – kawannya histeris. Pucat pasi dan lari terbirit – birit, meninggalkan bocah malang itu menjerit – jerit dan diseret harimau ke dalam rimba.

(4)Gemparlah dusun Tanah Abang jelang siang itu. Baru kali ini, sepanjang sejarah Tanah Abang, harimau menyerang dan memakan manusia. Laki – laki berbondong – bondong mengejar harimau itu.

Bagian klimaks pada kutipan cerita tersebut ditunjukkan pada kalimat nomor ….
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)

Pembahasan:

Bagian klimaks pada sebuah cerita merupakan bagian puncak masalah yang dialami tokoh. Bagian ini pula yang paling menegangkan pada sebuah cerita. Berdasarkan potongan cerita pada soal, bagian klimaks terdapat pada kalimat nomor (3), yaitu saat harimau menerkam bocah laki – laki enam tahun.

Jawaban: C

4. Latar (Setting)

Latar dapat memberikan pandangan nyata dari sebuah cerita pendek. Latar dalam sebuah cerpen merupakan unsur intrinsik mengenai keterangan dari sebuah cerpen. Keterangan tersebut dapat berupa waktu, tempat, sosial, atau suasana. Dengan demikian, latar dalam sebuah cerpen terdiri dari empat macam yaitu latar tempat, waktu, sosial, dan suasana.

  • Latar waktu: keterangan mengenai kapan waktu terjadi peristiwa dalam cerita. Latar waktu dapat berupa jam, hari, tanggal, bulan, tahun, atau peristiwa tertentu.
  • Latar tempat: berupa keterangan lokasi di mana terjadinya peristiwa dalam cerita.  Keterangan tempat dapat berupa perkotaan/di kota, pedesaan/di desa, di rumah, dan sebagainya.
  • Latar suasana: merupakan gambaran keadaan yang diceritakan pada sebuah cerpen. Latar suasana dapat tergambarkan melalui perasaan para tokoh seperti perasaan gembira, sedih, lelah, bimbang, bingung, dan lain sebagainya.
  • Latar sosial: menggambarkan kondisi sosial masyarakat dalam cerita. Contoh latar sosial seperti latar sosial bawah/rendah, latar sosial menengah, latar sosial tinggi, dan sebagainya.

Contoh Soal Menentukan Latar

Cermati kutipan berikut!

Bagi nenek, wibawa harus terus dijaga agar orang di luar griya mau menghargainya. Kenyataannya? Memang nenek bisa mengatur keluarga. Bahkan Ida Bagus Tugur, suaminya, takkan berkutik hanya dengan batuk kecil. Anehnya, nenek hanya pandai membaca kesalahan – kesalahan yang dibuat suaminya. Tapi dia tidak lihai membaca kesalahan anak kesayangannya, anak lelaki satu – satunya yang teramat dia kagumi dan terlalu sering membuat masalah itu.

Pembuktian latar suasana tidak nyaman dalam kutipan novel tersebut adalah ….
A. Nenek selalu mempersalahkan suaminya.
B. Nenek selalu menjaga wibawanya.
C. Nenek tidak bisa mengatur keluarga.
D. Cucu nenek sering membuat masalah.
E. Suami nenek tidak berkutik dengan batuk kecil.

Pembahasan:

Latar suasana berkaitan dengan perasaan atau suasana kejadian peristiwa dalam cerita itu terjadi. Suasana tidak nyaman artinya suasana yang tidak enak atau tidak menyenangkan. Gambaran suasana tidak nyaman pada soal terletak pada kalimat Bahkan Ida Bagus Tugur, suaminya, takkan berkutik hanya dengan batuk kecil.

Jadi, pembuktian latar suasana tidak nyaman dalam kutipan novel tersebut adalah Suami nenek tidak berkutik dengan batuk kecil.

Jawaban: E

Baca Juga: Tips Membuat Essay

5. Sudut Pandang

Sudut pandang dalam cerpen adalah cara yang digunakan penulis untuk menyampaikan ceritanya. Ada tiga cara dalam menggunakan sudut pandang dalam menuliskan cerita. Ketiga cara tersebut adalah penulisan cerita dengan sudut pandang orang pertama, kedua, dan ketiga.

Perbedaan ketiga cara penggunaan sudut pandang terletak dari penggunaan kata ganti orang. Jika cerita disampaikan dengan aku (tokoh utama itu sendiri) maka cerpen ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama. Penggunaan sudut pandang orang kedua terlihat dari cerita yang menggunakan kata ganti orang Kamu, Anda, atau Kau. Cerita dengan sudut pandang orang ke tiga terlihat dari penggunaan kata ganti orang berupa dia.

Unsur Intrinsik Cerpen untuk Sudut Pandang

Beberapa penulis ada yang menggunakan sudut pandang orang yang berada di luar cerita.

Baca Juga: Pronomina ~ Kata Ganti Orang

Contoh Soal Menentukan Sudut Pandang

Bacalah penggalan cerpen berikut!

Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda.

“Kenang-kenangan” oleh Abdul Gani A.K

Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam penggalan tersebut adalah ….
A. Orang pertama pelaku utama
B. Orang ketiga pelaku sampingan
C. Orang ketiga pelaku utama
D. Orang pertama dan ketiga
E. Orang ketiga serbatahu

Pembahasan:

Sudut pandang pada kutipan cerpen tersebut mengambil posisi sebagai pelaku utama. Kondisi tersebut terlihat dari penggunaan kata aku sebagai pencerita utama. Jadi, sudut pandang pengarang yang digunakan dalam penggalan tersebut adalah orang pertama pelaku utama.

Jawaban: A

6. Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah cara penulis menyampaikan cerita. Beberapa pembaca dapat mengenali gaya bahasa penulis favoritnya. Karena gaya bahasa dapat menjadi ciri khas dari masing – masing pengarang. Cakupan gaya bahasa meliputi penggunaan kalimat, pemilihan diksi, penggunaan kata, dan lain sebagainya.

Contoh Soal Gaya Bahasa

Bacalah kutipan cerpen berikut!

Udara danau Menjakut berbau bunga kopi, tertiup perlahan memasuki rongga hati, dan menghempas dadaku pada barisan awan di langit menuju arah laut, ke arah pantai, ke arah teluk Tanjung Cina. Di sanalah Sulaiman lelaki yang telah menebas separuh umurnya, telah terkubur dan pergi.

Majas yang terdapat pada kutipan cerpen tersebut adalah ….
A. personifikasi
B. hiperbola
C. metafora
D. sinestesia
E. simile

Pembahasan:

Kalimat bermajas pada kutipan cerpen terdapat pada kalimat pertama. Berbunyi: Udara danau menjangkut berbau bunga api, tertiup perlahan memasuki rongga hati, dan menghempas dadaku pada barisan awan …. Penggunaan majas pada kalimat tersebut adalah melukiskan benda mati seolah-olah hidup (personifikasi).

Jadi, majas yang terdapat pada kutipan cerpen tersebut adalah personifikasi.

Jawaban: A

Baca Juga: Macam – Macam Majas

7. Amanat (Moral Value)

Kebanyakan penulis ingin menyampaikan pesan melalui karya tulisnya. Pesan dari sebuah cerita disebut amanat. Atau, amanat merupaka pelajaran hidup yang dapat diperoleh melalui bacaan.

Amanat dalam cerpen dapat disampaikan secara tersurat atau tersirat. Disebut amanat tersurat jika pesan yang ingin disampaikan ditulis lansung dalam cerita. Amanat tersirat digunakan jika pesan yang ingin disampaikan tidak tertulis langsung. Pembaca dapat mendapatakan amanat tersirat dengan menyimpulkan sendiri apa pesan yang terkandung dalam cerita tersebut.

Contoh Soal Menentukan Amanat

Bacalah potongan cerpen berikut!

Ya, aku gadis normal layaknya yang lain. Tanpa satu kaki bukanlah masalah, tanpa satu kaki bukanlah penghambat untuk meneruskan segala mimpi yang tersimpan dalam diri. Aku bisa menjalani semuanya, aku bisa menghirup udara pagi, aku bisa menari walau hanya di kursi roda, aku bisa sekolah lagi. Semoga aku pun bisa membuat catatan manis untuk orang yang mengashiku biarpun anggota tubuhku tak lengkap.

Amanat pada kutipan cerita tersebut adalah ….
A. Kekurangan tidak menghalangi kita untuk berkarya.
B. Kita tidak boleh mencela orang yang kekurangan.
C. Seharusnya kita kasihani orang yang kekurangan.
D. Hendaklah menghargai orang yang kekurangan.

Pembahasan:

Amanat dari kutipan cerpen ditegaskan pada kalimat Tanpa satu kaki bukanlah masalah, tanpa satu kaki bukanlah penghambat untuk meneruskan segala mimpi yang tersimpan dalam diri. Artinya, amanat yang ingin disampaikan adalah kekurangan tidak menghalangi kita untuk berkarya.

Jawaban: A

Demikianlah ulasan mengenai unsur intrinsik cerpen. Tujuh unsur intrinsik cerpen yang dibahas meliputi tema, tokoh dan penokohan, alur, latar/setting, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat. Terimakasih sudah mengunjungi idschool(dot)net, semoga bermanfaat.

Baca Juga: Jenis – Jenis Teks dalam Bahasa Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.